Jumat, 25 Oktober 2019

Remaja Indonesia Memiliki Pengetahuan yang Kurang Memadai Mengenai Penyakit Seksual


Remaja Indonesia memiliki pengetahuan yang kurang memadai mengenai penyakit menular seksual yang ada. Selama ini, mereka lebih banyak hanya mengetahui mengenai pencegahan HIV/AIDS saja.

Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser lewat merek alat kontrasepsi Durex di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya.

"95 persen menyatakan saya tahu tentang HIV. Tapi yang lain-lainnya seperti kandidiasis, apalagi herpes, apalagi sipilis dan gonorea, sangat sedikit dari mereka yang mengetahuinya," kata dokter Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser.

Dari 500 remaja yang disurvei secara daring, hanya 33 persen yang mengetahui tentang gonorea, 38 persen yang tahu mengenai sipilis, 54 persen tahu tentang herpes atau HPV, dan 57 persen yang tahu tentang kandidiasis.

Terkait HIV sendiri, masih banyak remaja yang percaya akan informasi yang salahserta stigma tentang orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.

Penelitian tersebut menemukan bahwa tiga dari 10 remaja masih berpikir bahwa melakukan aktivitas sehari-hari bersama ODHA bisa menularkan penyakit menular seksual. Selain itu, 55 persen dari peserta masih mengira bahwa HIV bisa menular lewat ciuman.

"Jadi mereka minim sekali pengetahuan ini," kata Helena.

Selain mengenai kurangnya pemahaman terkait penyakit menular seksual di luar HIV, studi ini juga menemukan bahwa pendidikan seks pada remaja di Indonesia mulai diperkenalkan di usia 14 sampai 18 tahun. Padahal, mereka sudah mengalami pubertas di usia 12 hingga 17 tahun sehingga hal ini tergolong cukup terlambat.

0 komentar:

Posting Komentar