Minggu, 27 Oktober 2019

Wanita Usia Muda Memiliki Daya Tahan Influenza Jauh Lebih Kuat Dibanding Pria


Secara umum, wanita sebenarnya memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap flu dibanding pria. Namun sebuah penelitian mengungkap bahwa seiring bertambahnya usia dan menurunnya estrogen, daya tahan mereka ini bakal menurun.

Dilansir dari The Health Site, hasil penelitian ini diterbitkan pada jurnal npj Vaccines. Hasil didapat usai dilakukan evaluasi terhadap respons imun terhadap vaksin influenza 2009 H1N1 di antara 145 partisipan. Satu grup berusia antara 18-45 sedangkan lainnya 65 tahun ke atas.

"Kita butuh untuk mempertimbangkan formulasi vaksin buatan dan dosisnya berdasar jenis kelami penerima vaksin serta usia mereka," terang Sabra Klein, peneliti senior penelitian ini.

Usai menganalisis sejumlah penanda dari respons imun, peneliti menemukan bahwa secara rata-rata wanita pada usia lebih muda memiliki respons lebih kuat. Hasil ini diperoleh usai dibandingkan dengan pria dan wanita yang lebih tua.

Wanita muda ini memiliki tingkat protein daya tahan tiga kali lebih besar dibanding pada pria muda. Jumlah ini juga dua kali lipat lebih banyak dibanding pada wanita tua.

Pengukuran dari respons antibodi anti flu juga lebih tinggi pada wanita muda ketika dibandingkan pada pria dan wanita tua. Semakin muda wanita, maka semakin besar tingkat estradiol pada peredaran darah, salah satu estrogen penting dibanding pada wanita usia tua.

Serupa dengan wanita muda, pria muda memiliki tingkat aliran testosteron lebih tinggi pada darah dibanding pada pria tua. Respons vaksin yang lebih tinggi dihubungkan dengan estradiol semakin tinggi pada wanita muda dan semakin rendah testosteron pada pria yang lebih muda.

Klein mengungkap bahwa terdapat bukti adanya hubungan pada tingkat hormon berdasar jenis kelamin ini.

"Apa yang kita tunjukkan di sini adalah menyangkal bahwa estrogen yang muncul saat menopause mempengaruhi kekebalan tubuh wanita," terang Klein.

"Hingga sekarang, hal ini tidak diperhitungkan pada konteks vaksin. Temuan ini menjelaskan bahwa satu jenis vaksin tidak bisa melingkupi semua orang dengan sama. Mungkin pria seharusnya mendapat dosis lebih besar," tandasnya.

Jumat, 25 Oktober 2019

Remaja Indonesia Memiliki Pengetahuan yang Kurang Memadai Mengenai Penyakit Seksual


Remaja Indonesia memiliki pengetahuan yang kurang memadai mengenai penyakit menular seksual yang ada. Selama ini, mereka lebih banyak hanya mengetahui mengenai pencegahan HIV/AIDS saja.

Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser lewat merek alat kontrasepsi Durex di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya.

"95 persen menyatakan saya tahu tentang HIV. Tapi yang lain-lainnya seperti kandidiasis, apalagi herpes, apalagi sipilis dan gonorea, sangat sedikit dari mereka yang mengetahuinya," kata dokter Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser.

Dari 500 remaja yang disurvei secara daring, hanya 33 persen yang mengetahui tentang gonorea, 38 persen yang tahu mengenai sipilis, 54 persen tahu tentang herpes atau HPV, dan 57 persen yang tahu tentang kandidiasis.

Terkait HIV sendiri, masih banyak remaja yang percaya akan informasi yang salahserta stigma tentang orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.

Penelitian tersebut menemukan bahwa tiga dari 10 remaja masih berpikir bahwa melakukan aktivitas sehari-hari bersama ODHA bisa menularkan penyakit menular seksual. Selain itu, 55 persen dari peserta masih mengira bahwa HIV bisa menular lewat ciuman.

"Jadi mereka minim sekali pengetahuan ini," kata Helena.

Selain mengenai kurangnya pemahaman terkait penyakit menular seksual di luar HIV, studi ini juga menemukan bahwa pendidikan seks pada remaja di Indonesia mulai diperkenalkan di usia 14 sampai 18 tahun. Padahal, mereka sudah mengalami pubertas di usia 12 hingga 17 tahun sehingga hal ini tergolong cukup terlambat.

Senin, 21 Oktober 2019

Patah Hati Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Seseorang


Patah hati merupakan salah satu masalah percintaan yang tidak asing dialami oleh banyak orang. Kandasnya hubungan percintaan atau penolakan yang dialami bisa membuat seseorang merasa patah hati.

Mengalami patah hati bisa menimbulkan efek pada mental seseorang. Namun siapa sangka bahwa hal ini ternyata juga bisa menyebabkan masalah secara fisik dan memunculkan masalah kesehatan serius.

tak main-maiKonsumsi Cabai Di Atas Batas Bisa Buat Seseorang Lebih Rentan Demensian, sebuah penelitian mengungkap bahwa patah hati yang dialami seseorang bisa berpengaruh terhadap munculnya kanker. Dilansir dari Medical Daily, sebuah penelitian mengungkap bahwa kondisi yang disebut sindrom patah hati yang muncul ketika seseorang mengalami tekanan secara emosional dan fisikal bisa mempengaruhi berkembangnya kanker. Diketahui juga bahwa masalah ini bisa menurunkan peluang seseorang selamat dari kanker.

Sindrom patah hati atau biasa disebut sebagai sindrom takotsubo ini memiliki efek sama seperti serangan jantung. Hal ini menyebabkan sakit di dada serta napas yang memendek karena bilik jantung membesar sehingga kesulitan memompa darah.

Peneliti mengungkap bahwa satu dari enam orang yang mengalami sindrom ini mengalami kanker. Hal yang membuat temuan ini semakin mengejutkan adalah karena peluang seseorang untuk selamat mengecil setelah lima tahun mendapat diagnosis ini.

Tim peneliti menyebut bahwa penelitian mereka menjelaskan hubungan paling kuat antara sindrom patah hati dan kanker. Hasil ini didapat usai analisis terhadap 1.600 pasien yang mengalami sindrom patah hati.

Kanker payudara merupakan jenis kanker paling umum yang muncul selama penelitian ini. Jenis selanjutnya adalah tumor di sistem pencernaan, saluran pembuangan, organ kelamin, dan kulit.

"Pasien dengan sindrom patah hati mungkin mendapat mendapat manfaat jika menjalani pemeriksaan kanker untuk meningkatkan kemungkinan mereka selamat," terang Christian Templin, peneliti dan direktur University Hospital Zurich, Swiss.

"Hasil penelitian kami seharusnya meningkatkan kewaspadaan di antara onkologis dan hematologis dalam mempertimbangkan sindrom patah hati ini ketika mendiagnosis kanker seseorang atau dalam mengobatinya ketika mereka mengalami nyeri di dada, napas memendek, atau kondisi abnormal pada elektrokardiogram," sambungnya.

Peneliti mengatakan bahwa pastisipan yang mengalami kanker mungkin tidak bertahan selama 30 hari setelah gejala sindrom ini muncul. Kelompok yang sama mungkin juga membutuhkan bantuan jantung dan pernapasan secara intensif. 

Jumat, 18 Oktober 2019

Konsumsi Cabai Di Atas Batas Bisa Buat Seseorang Lebih Rentan Demensia


Makanan pedas selama ini diketahui hanya menyebabkan masalah pada pencernaan saja, namun pada jangka panjang ternyata ada efek lain yang dapat ditimbulkan. Diketahui bahwa konsumsi makanan pedas ini memiliki hubungan dengan demensia seseorang.

Dilansir dari the Health Site, sebuah penelitian yang dilakukan di China membuktikan mengenai dampak buruk makanan pedas terhadap kesehatan otak. Penelitian ini melibatkan 4.582 partisipan di China dengan usia di atas 55 tahun.

Diketahui bahwa orang-orang yang secara konsisten mengonsumsi lebih dari 50 gram cabai setiap hari mengalami penurunan kognitif lebih cepat. Merosotnya memori bahkan lebih signifikan jika orang tersebut memiliki badan kurus.

"Konsumsi cabai diketahui memiliki manfaat bagi berat badan dan tekanan darah pada penelitian sebelumnya. Namun, pada penelitian ini kami menemukan efek yang muncul pada kognisi orang tua," jelas pimpinan penelitian, Zumin Shi dari Qatar University.

Berdasar penelitian sebelumnya, capsaicin merupakan komponen aktif pada cabai yang bisa mempercepat metabolisme, mengurangi lemak, dan mencegah penyakit vaskular. Mereka yang mengonsumsi lebih banyak cabai memiliki indeks massa tubuh lebih rendah dan juga lebih aktif secara fisik dibanding orang yang tak mengonsumsinya.

Orang dengan berat badan normal mungkin lebih sensitif terhadap konsumsi cabai dibanding pada orang yang kelebihan berat badan.

"Konsumsi cabai telah dihubungkan sebelumnya dengan berat badan dan pengendalian tekanan darah. Capsaicin merupakan bahan aktif yang membantu menjaga energi dan oksidasi lemak.

Dari penelitian yang dilakukan ini, diketahui bahwa konsumsi cabai lebih dari 50 gram setiap hari bisa membuat masalah pada kesehatan otak seseorang. Walau begitu masih ada keterbatasan mengenai berapa jumlah konsumsi ideal cabai untuk mendapat manfaatnya secara optimal.

Selasa, 15 Oktober 2019

Denyut Nadi Atau Detak Jantung Normal


Perlu diketahui bahwa denyut nadi adalah berapa kali arteri (pembuluh darah bersih) mengembang dan berkontraksi dalam atu menit sebagai respons terhadap detak jantung. Dan jumlah denyut nadi ini sama dengan detak jantung. Hal ini dikarenakan kontraksi pada jantung menyebabkan peningkatan tekanan darah dan denyut nadi di arteri. Jadi, mengukur denyut nadi itu sama artinya dengan mengukur detak jantung.

Setiap orang memiliki jumlah denyut yang berbeda. Dimana, denyut nadi yang rendah biasanya terjadi saat anda sedang beristirahat, dan akan meningkat saat berolahraga. Lalu, sebenarnya berapa idealnya jumlah denyut nadi atau detak jantung normal itu? Perlu diketahui bahwa nadi manusia rata-rata berdenyut sekitar 60-100 kali per menit. Bagi orang yang sering berolahraga, seperti para atlit biasanya akan memiliki denyut jantung normal yang lebih rendah sekitar 40 kali per menit. Lalu standar denyut nadi normal tersebut harus dirubah menjadi 50-70 kali per menit. Bahkan ada sebuah penelitian yang mengungkapkan bahwa jika denyut nadi seseorang saat istirahat lebih dari 80 kali per menit, maka risiko akan terkena serangan jantung semakin tinggi, meskipun nilai tersebut dianggap normal oleh standar yang digunakan saat ini. 

Detak jantung atau denyut nadi yang cepat bisa disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu oleh aktivitas fisik, anemia, mengonsumsi obat-obatan dan zat tertentu, seperti amfetamin, obat flu, kafein, rokok, dan alkohol. Sedangkan demam atau menderita kondisi tertentu, seperti hipertiroid, dan faktor psikologis seperti cemas dan stres. 

Sementara detak jantung rendah ketika beristirahat bisa disebabkan oleh penyakit jantung, gangguan listrik jantung, mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit jantung, tingkat kebugaran yang baik, serta kelenjar tiroid kurang aktif (hipotiroidisme). Sedangkan detak jantung atau denyut nadi yang lemah bisa diakibatkan adanya pendarahan atau dehidrasi berat yang menyebabkan syok, atau masalah pada jantung seperti gagal jantung atau henti jantung. 

Lalu hal apa saja yang bisa mempengaruhi detak jantung atau denyut nadi? Untuk lebih jelasnya berikut ini ulasannya.

1. Usia

Seperti yang diketahui bahwa detak jantung normal pada anak-anak cenderung lebih tinggi diibandingkan orang dewasa. Sementara untuk lansia, detak jantung atau denyut nadi cenderung lebih rendah. 

2. Suhu Udara

Pada saat suhu serta kelembapan udara tinggi, jantung akan memompa lebih banyak darah. Sehingga akibatnya detak jantung juga akan semakin meningkat sekitar 5-10 kali per menit. 

3. Posisi Tubuh

Detak jantung pada saat anda sedang tiduran, duduk, atau berdiri, akan sama saja. Namun terkadang saat sedang duduk atau berbaring lalu kemudian berdiri, detak jantung bisa naik sedikit selama 15-20 detik. Namun setelah beberapa menit kemudian, detak jantung atau denyut nadu akan normal kembali.

4. Emosi

Perlu anda ketahui bahwa emosi juga bisa meningkatkan detak jantung, terutama ketika stress, cemas, gembir, atau terkejut.

5. Ukuran Tubuh

Orang yang memiliki tubuh kegemukan atau obesitas kemungkinan akan memiliki detak jantung yang lebih tinggi, namun biasanya tidak akan lebih dari 100 kali per menit.

6. Efek Samping Obat

Biasanya obat-obatan yang memblokir hormon adrenalis cenderung bisa memperlambat denyut nadi. Sebaliknya, jika terlalu banyak mengonsumsi obat tiroid akan menaikan detak jantung.

Denyut nadi ini biasanya diperiksa guna mengetahui apakah jantung berungsi baik atau tidak, menemukan tanda-tanda penyakit, memeriksa aliran darah setelah cedera, dan sebagai bagian dari pemeriksaan tanda-tanda vital secara umum. Mungkin itu saja artikel kali ini semoga bermanfaat.

Senin, 14 Oktober 2019

Terjadinya Penyakit Jantung Bawaan pada Anak Bisa Dideteksi Sejak Kehamilan


Walau selama ini sering dikaitkan sebagai penyakit orang tua, penyakit jantung juga bisa dialami oleh anak-anak. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2014 menemukan 7 hingga 8 bayi per 1000 kelahiran hidup dilahirkan dengan penyakit jantung bawaan (PJB).

PJB sendiri merupakan kelainan bawaan yang paling sering terjadi di antara kelainan-kelainan bawaan jenis lain. Kasus PJB pada bayi baru lahir yang terlambat dideteksi menjadi penyebab utama kematian bayi baru lahir.

Sementara itu, berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Pusat Jantung Nasional Harapan Kita sepanjang 2013-2017 menunjukkan bahwa hanya 2000 kasus PJB setiap tahunnya yang mendapatkan intervensi baik secara bedah maupun non-bedah, padahal setidaknya ada 20,000 pasien PJB setiap tahunnya yang membutuhkan penanganan.

1. Jumlah Dokter Jantung yang Belum Ideal


Kepala Subdirektorat Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah, Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Asik Surya, menjelaskan bahwa saat ini prevalensi terhadap penyakit jantung di Indonesia secara keseluruhan mencapai 1.5 persen. Sedangkan, dokter jantung di Indonesia sendiri hanya sekitar 1050 orang.

Angka ini menggambarkan ketidakseimbangan antara jumlah dokter jantung dengan kasus yang harus ditangani, yang jika di angkakan maka perbandingan ini mencapai 1:250.000. Selain tenaga kesehatan, kecenderungan kurang lengkapnya alat yang ada di daerah menyebabkan rujukan penyakit-penyakit ini ditujukan ke Jakarta. Padahal, terdapat penanganan yang bisa dilakukan di daerah asal.

“Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan, perlu diciptakan sistem rujukan yang efektif sehingga penanganannya dapat dilakukan merata, tidak hanya berfokus pada daerah Jakarta,” tutur dr. Asik dalam siaran pers Philips yang diterima Fimela.com

Sementara itu, Sementara itu, dr. Winda Azwani menjelaskan bahwa angka tenaga kesehatan ahli yang mampu melakukan penanganan PJB pada bayi dan anak sendiri angkanya bahkan jauh di bawah itu. Saat ini jumlah dokter yang dapat menangani penyakit jantung anak hanya mencapai 50-60 orang.

Jumlah ini dianggap kurang memadai, mengingat diprediksi sekitar 50.000 bayi lahir dengan penyakit jantung bawaan (PJB) setiap tahunnya. Selain kurangnya jumlah tenaga ahli, hanya sedikit rumah sakit yang memiliki teknologi pendukung untuk melakukan intervensi PJB pada bayi dan anak. Alat dan bahan medis yang dibutuhkan masih berasal dari luar negeri, sehingga berkontribusi ke mahalnya tarif penanganan.

2. Penangan PJB


Dr. Winda Azwani menyatakan bahwa berdasarkan jenisnya, PJB dapat dibagi menjadi dua, yaitu PJB sederhana dan PJB kompleks.

“PJB sederhana terjadi jika bayi mengalami 1 lesi (keadaan abnormal) pada jantung. Sedangkan PJB kompleks adalah penyakit jantung dengan lebih dari 1 lesi dan komplikasi lainnya. Untuk penanganan PJB sederhana, beberapa kota besar lainnya seperti Medan, Bandung, dan Makassar sudah memiliki fasilitas untuk menanganinya. Namun, penanganan PJB kompleks saat ini hanya dapat dilakukan di dua lokasi, yaitu Jakarta dan Surabaya saja," paparnya.

Penanganan PJB dapat dibagi menjadi dua, yaitu dengan operasi jantung dan intervensi non-bedah melalui kateterisasi jantung. Tergantung dengan tingkat kegawatannya, operasi jantung pada bayi dapat dilakukan sejak bayi berusia 2 minggu.

Baik intervensi bedah maupun non-bedah membutuhkan tenaga ahli dengan tim terlatih yang saat ini jumlahnya masih sangat sedikit, sehingga terkadang berakibat pada terlambatnya penanganan PJB kritis.

PJB saat ini belum diketahui pasti penyebabnya. Namun, penyakit ini memiliki beberapa faktor risiko, antara lain adalah ibu dengan diabetes yang melakukan pengobatan dengan suntik insulin, atau ibu dengan epilepsi yang mengonsumsi obat anti-kejang. Pada bayi, PJB dapat memiliki dampak jangka panjang jika tidak ditangani dengan benar, mulai dari cacat, stunting, hingga kelumpuhan.

3. Deteksi Dini PJB


Data Pusat Jantung Nasional Harapan Kita 2019 menyebut bahwa daftar antrian operasi jantung pada bayi dan anak di saat ini mencapai 1.100 pasien, dengan kemampuan rumah sakit untuk melakukan operasi sebanyak 1.200 operasi setiap tahunnya. Namun semakin canggihnya teknologi saat ini, PJB sudah bisa dideteksi sejak janin masih berada di dalam kandungan, yaitu melalui fetal echocardiography. Teknologi yang baru dikenal di dunia kesehatan pada 10 tahun terakhir ini dapat menangkap kelainan pada jantung janin menggunakan USG, meskipun untuk saat ini, dokter ahli yang bisa melakukan fetal echocardiography masih terbatas jumlahnya.

Pemeriksaan USG juga bisa menangkap beberapa gejala yang menjadi indikasi penyakit jantung bawaan, seperti janin berukuran cenderung kecil dan bibir sumbing. Setelah kelahiran, PJB dapat dikenali lewat beberapa gejala seperti berat badan yang sulit naik, napas yang cepat saat tertidur dan anak mudah lelah. Untuk menghindari terjadinya dampak negatif jangka panjang PJB, maka deteksi dini sangat dianjurkan.

Presiden Direktur Philips Indonesia Dick Bunschoten mengatakan melalui mengatakan Philips berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai berbagai isu kesehatan yang mempengaruhi kehidupan banyak orang di Indonesia, salah satunya adalah PJB. Karenanya, Philips mendorong masyarakat untuk mulai mengadopsi gaya hidup sehat serta membiasakan deteksi dini untuk mengantisipasi penyakit seperti PJB ini.

"Lewat inovasi teknologi seperti USG, deteksi PJB sejak dini dapat dilakukan. Selain itu, solusi Cath Lab Azurion kami juga membantu intervensi non-bedah yang lebih tidak menakutkan dan tidak meninggalkan luka pada anak," ujarnya.