Kamis, 14 November 2019

Anak Sehat dan Terbebas dari Mual dan Muntah


Hal penting yang perlu dilakukan orang tua adalah memastikan kesehatan anaknya. Ya, anak-anak memang cenderung lebih mudah sakit mengingat daya tahan tubuhnya yang belum sempurna. Tapi, bukan berarti penyakit yang diderita oleh sang anak tidak bisa disembuhkan mengingat sudah banyak obat yang disediakan khusus untuk anak-anak. Termasuk saat sang anak mengalami mual dan muntah.

Mengatasi mual dan muntah pada anak kini bisa dilakukan dengan cara yang mudah seperti membaca Penyebab muntah pada anak artikel gue sehat. Rasa mual bisa dihentikan dengan cepat dan anak Anda pun bisa menerima makanan lagi secara normal. Mau tahu apa saja obat anti mual untuk anak yang efektif? Kunjungi lebih dulu laman berikut www.goapotik.com/produk/vometa-ft-10-mg-tablet-strip-99  untuk mendapatkan penawaran dari Goapotik.

Obat Antimual

Rasa mual yang dialami oleh anak-anak tidak boleh dianggap sepele. Sebab, saat anak Anda mengalami mual dan muntah, maka hal tersebut akan menghambat proses tumbuh dan berkembagnnya. Hal ini tak lepas karena penyerapan nutrisi yang berjalan tidak optimal hingga tubuh anak kekurangan nutrisi.

Untuk mengatasi rasa mual yang dialami oleh anak Anda, sebaiknya selalu sediakan obat antimual di rumah Anda. Anda bisa mendapatkan obat antimual yang cocok untuk anak Anda secara mudah di Go Apotik. Selain mudah, mencari obat di Goapotik juga menguntungkan karena Anda bisa mendapatkan promo pada beberapa obat yang ditawarkan.

Daun mint

Untuk meredakan rasa mual, Anda perlu membuat terasa nyaman, senyaman mungkin. Agar terasa nyaman, maka memberikan rasa hangat pada perut bisa menjadi cara yang tepat. Salah satu cara untuk menghangatkan perut yakni dengan mengonsumsi daun mint.

Mengonsumsi daun mint untuk meredakan rasa mual pada anak dapat dilakukan dengan cara merebusnya. Rebuslah daun mint seperti halnya ketika Anda tengah membuat teh. Daun mint dipercaya memiliki kandungan yang bisa meredakan rasa mual dan muntah dengan cepat. Gunakan daun mint yang telah dikeringkan agar bisa diseduh selayaknya saat Anda membuat teh sehingga lebih mudah untuk disajikan.

Itulah 2 obat untuk mengatasi mual dan muntah pada anak-anak yang bisa Anda coba. Jaga selalu kesehatan Anda dan keluarga dengan menambah pegetahuan seputar tips kesehatan paling update dari sumber Guesehat serta menyiapkan lacidofil untuk diare sachet di rumah Anda. Semoga bermanfaat.

Minggu, 27 Oktober 2019

Wanita Usia Muda Memiliki Daya Tahan Influenza Jauh Lebih Kuat Dibanding Pria


Secara umum, wanita sebenarnya memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap flu dibanding pria. Namun sebuah penelitian mengungkap bahwa seiring bertambahnya usia dan menurunnya estrogen, daya tahan mereka ini bakal menurun.

Dilansir dari The Health Site, hasil penelitian ini diterbitkan pada jurnal npj Vaccines. Hasil didapat usai dilakukan evaluasi terhadap respons imun terhadap vaksin influenza 2009 H1N1 di antara 145 partisipan. Satu grup berusia antara 18-45 sedangkan lainnya 65 tahun ke atas.

"Kita butuh untuk mempertimbangkan formulasi vaksin buatan dan dosisnya berdasar jenis kelami penerima vaksin serta usia mereka," terang Sabra Klein, peneliti senior penelitian ini.

Usai menganalisis sejumlah penanda dari respons imun, peneliti menemukan bahwa secara rata-rata wanita pada usia lebih muda memiliki respons lebih kuat. Hasil ini diperoleh usai dibandingkan dengan pria dan wanita yang lebih tua.

Wanita muda ini memiliki tingkat protein daya tahan tiga kali lebih besar dibanding pada pria muda. Jumlah ini juga dua kali lipat lebih banyak dibanding pada wanita tua.

Pengukuran dari respons antibodi anti flu juga lebih tinggi pada wanita muda ketika dibandingkan pada pria dan wanita tua. Semakin muda wanita, maka semakin besar tingkat estradiol pada peredaran darah, salah satu estrogen penting dibanding pada wanita usia tua.

Serupa dengan wanita muda, pria muda memiliki tingkat aliran testosteron lebih tinggi pada darah dibanding pada pria tua. Respons vaksin yang lebih tinggi dihubungkan dengan estradiol semakin tinggi pada wanita muda dan semakin rendah testosteron pada pria yang lebih muda.

Klein mengungkap bahwa terdapat bukti adanya hubungan pada tingkat hormon berdasar jenis kelamin ini.

"Apa yang kita tunjukkan di sini adalah menyangkal bahwa estrogen yang muncul saat menopause mempengaruhi kekebalan tubuh wanita," terang Klein.

"Hingga sekarang, hal ini tidak diperhitungkan pada konteks vaksin. Temuan ini menjelaskan bahwa satu jenis vaksin tidak bisa melingkupi semua orang dengan sama. Mungkin pria seharusnya mendapat dosis lebih besar," tandasnya.

Jumat, 25 Oktober 2019

Remaja Indonesia Memiliki Pengetahuan yang Kurang Memadai Mengenai Penyakit Seksual


Remaja Indonesia memiliki pengetahuan yang kurang memadai mengenai penyakit menular seksual yang ada. Selama ini, mereka lebih banyak hanya mengetahui mengenai pencegahan HIV/AIDS saja.

Fakta ini terungkap dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reckitt Benckiser lewat merek alat kontrasepsi Durex di lima kota besar yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya.

"95 persen menyatakan saya tahu tentang HIV. Tapi yang lain-lainnya seperti kandidiasis, apalagi herpes, apalagi sipilis dan gonorea, sangat sedikit dari mereka yang mengetahuinya," kata dokter Helena Rahayu Wonoadi, Direktur CSR Reckitt Benckiser.

Dari 500 remaja yang disurvei secara daring, hanya 33 persen yang mengetahui tentang gonorea, 38 persen yang tahu mengenai sipilis, 54 persen tahu tentang herpes atau HPV, dan 57 persen yang tahu tentang kandidiasis.

Terkait HIV sendiri, masih banyak remaja yang percaya akan informasi yang salahserta stigma tentang orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.

Penelitian tersebut menemukan bahwa tiga dari 10 remaja masih berpikir bahwa melakukan aktivitas sehari-hari bersama ODHA bisa menularkan penyakit menular seksual. Selain itu, 55 persen dari peserta masih mengira bahwa HIV bisa menular lewat ciuman.

"Jadi mereka minim sekali pengetahuan ini," kata Helena.

Selain mengenai kurangnya pemahaman terkait penyakit menular seksual di luar HIV, studi ini juga menemukan bahwa pendidikan seks pada remaja di Indonesia mulai diperkenalkan di usia 14 sampai 18 tahun. Padahal, mereka sudah mengalami pubertas di usia 12 hingga 17 tahun sehingga hal ini tergolong cukup terlambat.

Senin, 21 Oktober 2019

Patah Hati Bisa Meningkatkan Risiko Kanker Seseorang


Patah hati merupakan salah satu masalah percintaan yang tidak asing dialami oleh banyak orang. Kandasnya hubungan percintaan atau penolakan yang dialami bisa membuat seseorang merasa patah hati.

Mengalami patah hati bisa menimbulkan efek pada mental seseorang. Namun siapa sangka bahwa hal ini ternyata juga bisa menyebabkan masalah secara fisik dan memunculkan masalah kesehatan serius.

tak main-maiKonsumsi Cabai Di Atas Batas Bisa Buat Seseorang Lebih Rentan Demensian, sebuah penelitian mengungkap bahwa patah hati yang dialami seseorang bisa berpengaruh terhadap munculnya kanker. Dilansir dari Medical Daily, sebuah penelitian mengungkap bahwa kondisi yang disebut sindrom patah hati yang muncul ketika seseorang mengalami tekanan secara emosional dan fisikal bisa mempengaruhi berkembangnya kanker. Diketahui juga bahwa masalah ini bisa menurunkan peluang seseorang selamat dari kanker.

Sindrom patah hati atau biasa disebut sebagai sindrom takotsubo ini memiliki efek sama seperti serangan jantung. Hal ini menyebabkan sakit di dada serta napas yang memendek karena bilik jantung membesar sehingga kesulitan memompa darah.

Peneliti mengungkap bahwa satu dari enam orang yang mengalami sindrom ini mengalami kanker. Hal yang membuat temuan ini semakin mengejutkan adalah karena peluang seseorang untuk selamat mengecil setelah lima tahun mendapat diagnosis ini.

Tim peneliti menyebut bahwa penelitian mereka menjelaskan hubungan paling kuat antara sindrom patah hati dan kanker. Hasil ini didapat usai analisis terhadap 1.600 pasien yang mengalami sindrom patah hati.

Kanker payudara merupakan jenis kanker paling umum yang muncul selama penelitian ini. Jenis selanjutnya adalah tumor di sistem pencernaan, saluran pembuangan, organ kelamin, dan kulit.

"Pasien dengan sindrom patah hati mungkin mendapat mendapat manfaat jika menjalani pemeriksaan kanker untuk meningkatkan kemungkinan mereka selamat," terang Christian Templin, peneliti dan direktur University Hospital Zurich, Swiss.

"Hasil penelitian kami seharusnya meningkatkan kewaspadaan di antara onkologis dan hematologis dalam mempertimbangkan sindrom patah hati ini ketika mendiagnosis kanker seseorang atau dalam mengobatinya ketika mereka mengalami nyeri di dada, napas memendek, atau kondisi abnormal pada elektrokardiogram," sambungnya.

Peneliti mengatakan bahwa pastisipan yang mengalami kanker mungkin tidak bertahan selama 30 hari setelah gejala sindrom ini muncul. Kelompok yang sama mungkin juga membutuhkan bantuan jantung dan pernapasan secara intensif. 

Jumat, 18 Oktober 2019

Konsumsi Cabai Di Atas Batas Bisa Buat Seseorang Lebih Rentan Demensia


Makanan pedas selama ini diketahui hanya menyebabkan masalah pada pencernaan saja, namun pada jangka panjang ternyata ada efek lain yang dapat ditimbulkan. Diketahui bahwa konsumsi makanan pedas ini memiliki hubungan dengan demensia seseorang.

Dilansir dari the Health Site, sebuah penelitian yang dilakukan di China membuktikan mengenai dampak buruk makanan pedas terhadap kesehatan otak. Penelitian ini melibatkan 4.582 partisipan di China dengan usia di atas 55 tahun.

Diketahui bahwa orang-orang yang secara konsisten mengonsumsi lebih dari 50 gram cabai setiap hari mengalami penurunan kognitif lebih cepat. Merosotnya memori bahkan lebih signifikan jika orang tersebut memiliki badan kurus.

"Konsumsi cabai diketahui memiliki manfaat bagi berat badan dan tekanan darah pada penelitian sebelumnya. Namun, pada penelitian ini kami menemukan efek yang muncul pada kognisi orang tua," jelas pimpinan penelitian, Zumin Shi dari Qatar University.

Berdasar penelitian sebelumnya, capsaicin merupakan komponen aktif pada cabai yang bisa mempercepat metabolisme, mengurangi lemak, dan mencegah penyakit vaskular. Mereka yang mengonsumsi lebih banyak cabai memiliki indeks massa tubuh lebih rendah dan juga lebih aktif secara fisik dibanding orang yang tak mengonsumsinya.

Orang dengan berat badan normal mungkin lebih sensitif terhadap konsumsi cabai dibanding pada orang yang kelebihan berat badan.

"Konsumsi cabai telah dihubungkan sebelumnya dengan berat badan dan pengendalian tekanan darah. Capsaicin merupakan bahan aktif yang membantu menjaga energi dan oksidasi lemak.

Dari penelitian yang dilakukan ini, diketahui bahwa konsumsi cabai lebih dari 50 gram setiap hari bisa membuat masalah pada kesehatan otak seseorang. Walau begitu masih ada keterbatasan mengenai berapa jumlah konsumsi ideal cabai untuk mendapat manfaatnya secara optimal.